Showing posts with label wisata hati. Show all posts
Showing posts with label wisata hati. Show all posts

Wednesday, January 07, 2009

peta Israel dan Palestina dari masa ke masa

image

kalau udah gini yang teroris hamas atau israel?

Readmore »»

Wednesday, August 20, 2008

Al Muzani belajar wudhu

Al Muzani belajar wudhu

……. ada orang orang yang wudhu saja belum benar, tapi sudah dengan gagah bicara tentang kebebasan beragama. Tentang keyakinan akan kebenaran, tentang Tuhan yang tidak boleh otoriter, tentang agama yang harus ditafsirkan dengan bebas atas nama demokrasi …….

Al Muzani gundah. Ia terserang penyakit pemikiran. Sesuatu yang dimasa itu dikenal dengan ilmu kalam. Intinya mendalami ilmu tauhid dan eksistensi ketuhanan Allah dengan logika-logika rasional murni. Misalnya tentang sifat-sifat Allah yang dipertanyakan dengan membandingkan sifat manusia. Tentang takdir, apakah manusia punya hak pilih dalam perilaku atau terpaksa. Bagaimana cara Allah bicara, dengan huruf atau tidak, apakah huruf itu diciptakan atau tidak. Begitu seterusnya.



Al Muzani sering terseret mengunyah-ngunyah kerumitan logika seperti itu yang tengah marak. Al Muzani sendiri dikenal sebagai sosok muda yang sangat suka belajar sejak usia belia. Hari itu kegundahannya datang lagi. Ia pun menemui Imam Syafii, ulama besar yang mulai menetap di negerinya (Mesir), setelah sebelumnya menjadi ulama besar di Mekkah dan Irak.

Imam Syafii marah seraya bertanya, “ tahukah kamu berada di mana dirimu saat ini.”
“ Ya, disini,di tempat ini,” jawab Muzani
“ bukan. Kamu berada di Taron, sebuah tempat dilautan yang sangat berbau, tempat dimana firaun dan kaumnya ditenggelamkan,”jawab Imam Syafi’I.

Lalu Imam syafii melanjutkan, “ pernahkah kamu mendengar Rasulullah memerintahkan kita untuk menanyakan hal-hal seperti itu.”
“ tidak,” jawab Al Muzani
“Kamu tahu jumlah bintang dilangit, dan kapan masing-masing terbit serta kapan tenggelam ?”
“ tidak,” jawab Al Muzani

"sesuatu yang kamu bisa lihat dengan mata saja kamu tidak tahu, sekarang kamu mau mengaduk aduk secara ngawur seputar masalah penciptanya ?”
kemudian Imam Syafii bertanya lagi kepada Al Muzani tentang masalah dalam soal wudhu.
“tapi jawabanku salah,”kenang Al Muzani

Lantas Imam Syafii membagi soal wudhu kepada empat hal. “ dan menanyakan satu persatu kepadaku. Tapi tak ada satupun jawabanku yang benar,” kata Al Muzani.

Maka Imam Syafii marah dan berkata lagi, “ bagaimana kamu ini. Ilmu tentang sesuatu yang harusnya kamu ketahui (wudhu) karena kamu perlukan minimal lima kali setiap hari saja kamu tidak mengerti. Lalu kamu membebani dirimu dengan ilmu yang tidak jelas tentang Tuhan. Jika muncul rasa ragu di dalam dirimu katakan, “ dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang Satu, Tidak ada Tuhan selain Dia, dan Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” [ Al Baqarah : 163 ]

Sesudah dialog itu Al Muzani bertaubat dan mendalami ilmu fiqih, berguru pada Imam Syafii. Pasti salah satu yang dipelajari adalah soal wudhu yang ia salah dalam menjawab. Kelak Al Muzani merupakan salah satu murid Imam Syafii yang berhasil menjadi tokoh besar. Ia berperan penting dalam menyebarkan ilmu Imam Syafii. Imam Syafii pernah berkomentar, “ AL Muzani adalah penopang dan penyebar madzhabku.”

Al Muzani adalah kisah tentang obsesi pengetahuan dan pemikiran yang punya sisi kerinduannya. Seperti juga kerinduan perasaan akan hal-hal yang mengesankan, akal punya kerinduannya sendiri. Seperti kerinduan fisik kepada sentuhan, perut pada makanan, mata pada pandangan, seperti itu pula akal pikiran punya tautan rindu dan tambatan penggantungannya sendiri: rindu akan pengetahuan dan olah pikir.

Tak jarang semua kerinduan itu kita larikan ke alamat yang salah. Dengan pergulatan yang tak perlu. Maka gayungpun tak pernah bersambut. Kegundahan Al Muzani tidak pernah memberinya kepuasan ilmu. Sebab yang ditekuni jelas-jelas salah.

Potongan awal sejarah Al Muzani adalah wajah kebanyakan kita. Ada orang orang yang wudhu saja belum benar, tapi sudah dengan gagah bicara tentang kebebasan beragama. Tentang keyakinan akan kebenaran, tentang Tuhan yang tidak boleh otoriter, tentang agama yang harus ditafsirkan dengan bebas atas nama demokrasi, dan tentu saja tentang hal-hal aneh lainnya.

Sejarah Al Muzani adalah sejarah kebanyakan kita. Tapi mungkin tidak seutuhnya. Al Muzani pernah seperti itu, tapi kemudian bertaubat, belajar, berguru dan menjadi tokoh besar. Tapi banyak dari kita tetap tenggelam dalam kekacauan pemikiran,kekacauan kerinduan yang salah alamat, dan tak pernah kunjung menjadi tokoh besar. Satua atau dua mungkin menjadi orang besar. Tapi menjadi besar hanya karena berani berulah controversial.

Ini bukan gerakan membodohi diri dan menolak kemajuan berfikir. Tapi ini adalah semangat tentang tahu diri, menghormati kesucian agama, dan tidak meletakkan Tuhan serta otoritas hukum-Nya dalam timbangan yang keliru.

Tidak boleh ada lagi kerinduan-kerinduan kita yang salah alamat. Kita harus melejitkannya menjadi tambatan yang benar. Menjadi besar tidak sama dengan memilih angkuh dan bertindak bodoh. Seperti Al Muzani, ia pernah tak mengerti soal wudhu. Tapi ia memulai kebesarannya dengan mengubah kerinduan yang salah alamat ke tautan hidup yang benar dan menentramkan.



[ disarikan dari majalah Tarbawi 2008 ]






Readmore »»

Tuesday, August 19, 2008

DO'A

DO'A

Dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan

Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998, yang diiringi oleh tetesan air mata hadirin.

 

Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.

Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya.

Engkau pencipta dan pelindungnya

 

Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami

Rukunkan antar hati kami

Tunjuki kami jalan keselamatan

Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang

Jadikan kumpulan kami jama'ah orang muda yang menghormati orang tua

Dan jama'ah orang tua yang menyayangi orang muda

Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman

Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian

 

Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar

Wahai yang menyambung segala yang patah

Wahai yang menemani semua yang tersendiri

Wahai pengaman segala yang takut

Wahai penguat segala yang lemah

Mudah bagimu memudahkan segala yang susah

Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran

Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak

Engkau Maha Tahu dan melihatnya

 

Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu

Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu

Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur

Lindungi kami dengan perlindungan- Mu yang tak tertembus

Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami

Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami

Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami

Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara

Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana kepada kami

 

"ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih"

 

Ya ALLAH, kami hamba-hamba- Mu, anak-anak hamba-Mu

Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu

Berlaku pasti atas kami hukum-Mu

Adil pasti atas kami keputusan-Mu

 

Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu

Dengan semua nama yang jadi milik-Mu

Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu

Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu

 

Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu

Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib

Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur'an yang agung

Sebagai musim bunga hati kami

Cahaya hati kami

Pelipur sedih dan duka kami

Pencerah mata kami

 

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh dari taufan yang menenggelamkan dunia

 

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim dari api kobaran yang marak menyala

 

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa dari kejahatan Fir'aun dan laut yang mengancam nyawa

 

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana

 

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat, pasukan sekutu Ahzab angkara murka

 

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus dari gelap lautan, malam, dan perut ikan

 

Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya

 

Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya

 

Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara

 

Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa

 

Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia

 

Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka

 

Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya

 

Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami

 

Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami

 

Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri

 

 

 

Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti

Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu

Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab

Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati, ummatku ummatku

Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan semua kekayaan demi perjuangan

Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera

Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

 

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami da'i penyeru iman

Kepada nenek moyang kami penyembah berhala

Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da'wah

Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran

Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini

Kepada generasi berikut kami

Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini

Dengan sikap malas dan enggan berda'wah

Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa

Readmore »»

kebahagian kita

Seberapa besar kita mensyukuri nikmat Allah SWT itulah kebahagiaan kita.

 

Ar Rahman : Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

 

Readmore »»

SANDAL JEPIT YANG TERHORMAT [mey yulianti [mey105@gmail.com]]

SANDAL JEPIT YANG TERHORMAT

 Disebuah toko sepatu di kawasan perbelanjaan termewah di sebuah kota, nampak di etalase sebuah sepatu dengan anggun diterangi oleh lampu yang indah. Dari tadi dia nampak jumawa dengan posisinya, sesekali dia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memamerkan kemolekan designnya, haknya yang tinggi dengan warna coklat tua semakin menambah kemolekan yang dimilikinya.

Pada saat jam istirahat, seorang pramuniaga yang akan makan siang meletakkan sepasang sandal jepit tidak jauh dari letak sang sepatu.

"Hai sandal jepit, sial sekali nasib kamu, diciptakan sekali saja dalam bentuk buruk dan tidak menarik", sergah sang sepatu dengan nada congkak.

Sandal jepit hanya terdiam dan melemparkan sebuah senyum persahabatan.

"Apa menariknya menjadi sandal jepit ?, tidak ada kebanggaan bagi para pemakainya, tidak pernah mendapatkan tempat penyimpanan yang istimewa, dan tidak pernah disesali pada saat hilang, kasihan sekali kamu", ujar sang sepatu dengan nada yang semakin tinggi dan bertambah sinis.

Sandal jepit menarik nafas panjang, sambil menatap sang sepatu dengan tatapan lembut, dia berkata

"Wahai sepatu yang terhormat, mungkin semua orang akan memiliki kebanggaan jika memakai sepatu yang indah dan mewah sepertimu. Mereka akan menyimpannya di tempat yang terjaga, membersihkannya meskipun masih bersih, bahkan sekali-sekali memamerkan kepada sanak keluarga maupun tetangga yang berkunjung ke rumahnya". Sandal jepit berhenti berbicara sejenak dan membiarkan sang sepatu menikmati pujiannya.

"Tetapi sepatu yang terhormat, kamu hanya menemaninya di didalam kesemuan, pergi ke kantor maupun ke undangan-undangan pesta untuk sekedar sebuah kebanggaan. Kamu hanya dipakai sesekali saja. Bedakan dengan aku. Aku siap menemani kemana saja pemakaiku pergi, bahkan aku sangat loyal meski dipakai ke toilet ataupun kamar mandi. Aku memunculkan kerinduan bagi pemakaiku. Setelah dia seharian dalam cengkeraman keindahanmu, maka manusia akan segera merindukanku. Karena apa wahai sepatu?. Karena aku memunculkan kenyamanan dan kelonggaran. Aku tidak membutuhkan perhatian dan perawatan yang spesial. Dalam kamus kehidupanku, jika kita ingin membuat orang bahagia maka kita harus menciptakan kenyamanan untuknya", Sandal jepit berkata dengan antusias dan membiarkan sang sepatu terpana.

"Sepatu ! Sahabatku yang terhormat, untuk apa kehebatan kalau sekedar untuk dipamerkan dan menimbulkan efek ketakutan untuk kehilangan. Untuk apa kepandaian dikeluarkan hanya untuk sekedar mendapatkan kekaguman." Sepatu mulai tersihir oleh ucapan sandal jepit.

"Tapi bukankah menyenangkan jika kita dikagumi banyak orang", jawab sepatu mencoba mencari pembenar atas posisinya.

Sandal jepit tersenyum dengan bijak "Sahabatku! ditengah kekaguman sesungguhnya kita sedang menciptakan tembok pembeda yang tebal, semakin kita ingin dikagumi maka sesungguhnya kita sedang membangun temboknya"

Dari pintu toko nampak sang pramuniaga tergesa-gesa mengambil sandal jepit karena ingin bersegera mengambil air wudhu. Sambil tersenyum bahagia sandal jepit berbisik kepada sang sepatu

"Lihat sahabatku, bahkan untuk berbuat kebaikanpun manusia mengajakku dan meninggalkanmu"

Sepatu menatap kepergian sandal jepit ke mushola dengan penuh kekaguman seraya berbisik perlahan "Terima kasih, engkau telah memberikan pelajaran yang berharga sahabatku,  sandal jepit yang terhormat".

Selamat menjalani hari dengan penuh rahmat

 

Readmore »»

Wednesday, August 06, 2008

4 Aspek Penting Di dalam ‘Ubudiyyah

aspek.jpg

“Tidak mungkin suatu pengetahuan tentang Tuhan
(ma’rifat - gnosis) dapat muncul di dalam hati seseorang
dan dapat dicapai dengan tujuan selain mematuhi Tuhan,
mencintai, dan menghamba kepada-Nya.
Ma’rifat harus dicari dengan dasar hanya berharap
kepada-Nya, bukan dengan alasan lain apa pun”

Ibn ‘Ata’Allah 1]

Ibadah sesungguhnya mengandung 4 aspek penting yang antara lain:

1. KERENDAHAN HATI
Ketika cinta al-Hallaj mencapai puncaknya, menjadi musuh bagi dirinya sendiri dan sirnalah ia. Katanya, ”Akulah Tuhan – Ana al-Haqq” artinya, ”Aku telah sirna; Tuhan yang ada, tiada yang lain.” Inilah batas kerendahan hati dan puncak kehambaan. Artinya, ”Hanya Dia yang ada.”

Membuat sebuah pernyataan yang salah dan menjadi bangga, dengan mengatakan, ”Engkaulah Tuhan dan akulah hamba.” Sebab dalam hal ini engkau menegaskan eksistensimu sendiri, dan dualitaslah hasilnya. Jika engkau mengatakan,”Dia-lah Tuhan” hal itu juga menunjukkan dualitas, karena tidak akan ada “Dia” jika tanpa ‘aku”. Karenanya, Tuhan berkata, ”Akulah Tuhan.” tidak “Dia.” yang mengandung arti bahwa ‘ada yang lain’. Al-Hallaj telah mencapai fana, sehingga apa yang dikatakannya adalah kata-kata Tuhan. 2]

Hanya ketika nafs (ego) manusia sirna dan mencapai fana, dia baru dapat berkata,”Aku.” Namun, setelah itu dia tidak lagi mengatakannya, karena sifat-sifatnya telah digantikan oleh sifat-sifat Tuhan. Dalam baqa di dalam Tuhan ini, seseorang benar-benar telah ‘menjalankan Amanat’ dan menjadi khalifah Tuhan di muka bumi, memiliki kesadaran penuh dan seutuhnya mengejewantahkan Wujud-Nya.

Dan jika seseorang berkata, ”Aku.” sebelum mencapai maqam ini, hal itu justru jadi penegasan akan eksistensi dirinya sendiri. Bahkan jika dia seorang mu’min mengatakan, ”Aku ada dan Tuhan ada”, tentu saja ini bertentangan dengan pernyataan syahadatnya : “Bahwa Tiada realitas (tuhan) kecuali Yang Nyata(Allah).” Karena ke-aku-an adalah realitas, sedangkan ke-aku-an manusia adalah realitas semu.

Rumi bersyair :
Fir’aun berkata : ‘Akulah Tuhan!’,
dan ia binasa,
tapi al-Hallaj berkata : ‘Akulah Tuhan!’
dan ia selamat!”
3]

Jika seseorang memujimu : ‘betapa baik (shalih)-nya kamu!’ dan hal ini membuat kamu merasa lebih senang ketimbang ketika seseorang mengatakan : ‘Betapa buruknya kamu!’, maka berarti keadaan batinmu masih buruk. 4]
Oleh karena itu, tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab segala sesuatu yang tumbuh dari benih yang tidak ditanam, niscaya tidak akan berbuah dengan sempurna. 5]

2. KETAATAN YANG MENDALAM
Di dalam sebuah hadits Qudsi, Allah SwT telah berfirman, ”Tidaklah bumi-Ku dan langit-Ku mampu meliputi-Ku, akan tetapi hati seorang hamba-Ku yang beriman mampu meliputi-Ku.” 6]

Muhyiddin Ibn ‘Arabi mengatakan, Hal ini karena hati sang mu’min laksana sebuah cermin di mana ‘bentuk Tuhan’ termanifestasi , yang pada setiap saat terefleksi pada tingkatan dari Mikrokosmos.” 7]

Setiap hamba menyatakan suatu kepercayaan khusus kepada Tuhannya, dari siapa ia meminta bantuan menurut pengetahuan yang ia miliki. Dengan demikian, iman berbeda dengan Tuhan, sama halnya Tuhan berbeda, walaupun semua iman adalah bentuk-bentuk dari satu iman, sama halnya semua Tuhan membentuk di dalam cermin Tuhan dari segala tuhan....

Tuhan tidak dibatasi pada cara di mana Dia ber-epifani 8] kepadamu dan membuat Diri-Nya mencakup ke dimensimu untuk menerima-Nya. Dan itulah mengapa makhluk lainnya tidak berkewajiban untuk mematuhi Tuhan, yang menuntut pengabdianmu, sebab teofani mereka mengambil format lain. Format di mana Dia berepifani kepadamu adalah berbeda dari di mana Dia berepifani kepada yang lain. Tuhan sebagaimana Dia bertransendensi (munazzah) pada semua yang dapat dimengerti, dapat dibayangkan, atau bentuk yang masuk akal, tetapi yang dipertimbangkan di dalam nama dan sifat-Nya, yang adalah teofani-Nya.

Dia adalah, sebaliknya, tidak dapat dipisahkan dari bentuk-bentuk ini, yang adalah, dari suatu figur tertentu dan suatu situs tertentu di dalam ruang dan waktu. 9] Seperti diisyaratkan dalam hadits lainnya, ”Hati seorang mu’min adalah ‘Arsy Allah.” 10]

Imam al-Shadiq as mengatakan, ”Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan tanpa keluarga besar, menginginkan kekayaan tanpa harta, dan menginginkan kewibawaan tanpa kekuasaan, maka hendaknya dia berpindah dari kehinaan maksiat kepada Allah menuju ketaatan kepada-Nya.” 11]

3. BERSERAH DIRI
Adalah penting untuk menjadi jelas tentang kepada siapa kita berserah diri, apa yang kita serahkan dan bagaimana kita berserah diri. Biasanya kita menyerah pada ego kita. Itu menjadi sangat otomatis, karena kebanyakan dari waktu kita, kita tidak memperhatikannya.

Suatu saat beberapa pengetahuan telah kita peroleh dan membuat kemajuan; tanda yang pertama dari seorang salik (pejalan ruhani) muncul dengan suatu perubahan yang fundamental. Perubahan ini sekitar usaha untuk berserah diri secara konstan kepada Tuhan sebagai ganti berserah diri kepada tuntutan-tuntutan dan hasrat ego-personalitas atau nafs.

Kita harus bertanya kepada diri kita, apa yang akan kita serahkan? Tentu saja bukan kekayaan kita, atau pun seseorang yang kita cintai, atau juga semua yang kita miliki. Tuhan tidak memiliki hasrat terhadap semua itu. Sebenarnya yang mesti kita serahkan kepada-Nya adalah ego-personalitas kita (nafs), karena ego merupakan instrumen-instrumen yang membentuk rintangan di dalam usaha kita untuk mendekat kepada Tuhan, dan penghalang dari hasrat Tuhan kepada kita untuk mendapatkan kedekatan dengan-Nya dan untuk mengenal-Nya.

Sekarang pertanyaan yang tinggal adalah : bagaimana cara kita berserah diri kepada Tuhan?

Kita harus menyerahkan seluruh instrumen-instrumen ego, yang kenyataannya adalah semua pikiran, emosi, keinginan dan hasrat kita. Selama ini ego-personalitas kita telah mendominasi diri kita, karena instrumen-instrumen ini, atau dengan kata lain senjata-senjata ini digunakan oleh ego personal kita.

Bayangkan oleh Anda jika bahwa di dalam diri kita ada seorang musuh yang mengontrol jiwa kita, bersenjata dengan senjata-senjata ini. Mungkin karena ini pula Rasulullah Saw bersabda, ”Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafs-mu yang berada di antara ke dua lambungmu.” 12]

Oleh karena itu satu-satunya cara untuk memerangi dan menundukkannya adalah dengan membuang senjata-senjata itu. Bagaimanapun, hal ini bukan tugas yang gampang, karena, sejak awal kita percaya bahwa ‘personalitas’ itu adalah ‘kita’, dan ‘kita’ adalah ‘personalitas’ itu. Suatu tingkat kesadaran tertentu diperlukan untuk menyadarkan diri kita bahwa ada sesuatu yang lebih dari kita, yaitu : bahwa personalitas (kepribadian) hanya suatu selubung luar yang menutupi diri hakiki (inner self) atau esensi kedirian (essential self) kita.

Namun tanpa disadari, kita telah membentuk ‘tambahan-tambahan’ (attachments) pada struktur diri ini dan kita mengidentifikasikan ‘tambahan-tambahan’ itu sebagai identitas kita. Masalah lainnya adalah bahwa sifat alamiah ego yang senantiasa memanipulasi. Hal ini membuat kita, (meminjam istilah Sufi), jatuh hampir setiap saat; bahwa kita ingin menunggang keledai nafs dan menarik kendalinya, hanya untuk menemukan bahwa menit berikutnya kita sedang berjalan di belakang keledai mengikuti kemana keledai itu pergi.

Ego memiliki suatu yang dijalankan penuh untuk kita dan telah menjadi suatu kekuatan hebat yang takkan menyerah dengan mudah. Perjuangan internal melawan nafs telah disebut Nabi saww sebagai Jihad Akbar (peperangan yang terbesar) – yang lebih besar dari peperangan di medan perang yang sesungguhnya.

Perjalanan hidup seperti ini adalah perjuangan untuk melepas jubah ego personalitas yang menutupi diri kita yang sebenarnya, dan menjadi tersadarkan (self conscious), selagi diberi kesempatan untuk melempar jubah tersebut dan kembali ke status Kesadaran Ilahiah. Inilah tujuan sesungguhnya penciptaan kita.

Kebutuhan yang paling penting bagi kita adalah memiliki ketulusan (ikhlash) dan iman. Jika kita memilikinya, maka bantuan ghaib, suatu petunjuk atau bisa jadi seorang guru spiritual akan muncul.

Dilema manusia muncul ketika jiwa manusia terperangkap di antara kekuatan Ilahi dan kekuatan ego. Ketika kekuatan ego menarik kita bawah, kekuatan yang lebih rendah bahkan menambah kekacauan dan ketidakseimbangan di dalam diri kita dan hidup kita. Kekuatan ego ini akan mempertahankan diri agar kita tetap berada di bawah kontrolnya.

Pada sisi lain, jika jiwa kita naik ke alam yang lebih tinggi, kekuatan yang lebih rendah tidak memiliki banyak akses untuk mengendalikan kita, dan kita dapat langsung menerima bantuan dari alam yang lebih tinggi tersebut, (kecuali jika kita tergelincir dan harus berikhtiar untuk menghantam balik) Ini merupakan salah satu pertimbangan yang di dalam Sufisme banyak penekanan di sekitar pencari yang tulus dan menghindar dari orang-orang yang dikendalikan ego, karena, sebagaimana hukum “cinta menarik cinta”, sehingga kita bisa dengan mudah untuk ditarik dan tergelincir.

Untuk naik ke alam yang lebih tinggi, kita harus bisa berserah diri. Untuk itu, kita harus menyerahkan seluruh pikiran, emosi dan hasrat keinginan kita. Ironisnya, dengan berserah diri, kita menjadi mampu menerima dan merespon apapun juga yang Tuhan tunjukkan ke jalan-Nya tanpa penyimpangan dari ego personalitas.

Fatima Fleur Nassery Bonnin, seorang sufi wanita, telah berbicara dengan Syekh-nya lewat telepon dan sang Syekh berkata, “Aku tidak berpikir. Aku hanya melakukan apa yang diletakkan di hadapanku.”. Pendengaran batin sang sufi wanita mendengar makna yang dalam dari pernyataan ini dan ia mengalami efek yang luar biasa. Dia mengatakan lagi, ”Bayangkan, melakukan dan merespon apa yang Tuhan letakkan di hadapan kita tanpa terperangkap dalam emosi dan pemikiran seseorang. Secepat seseorang membiarkan pikiran, emosi atau hasrat keinginannya masuk, secepat itu ia ditarik keluar dari ‘kesatuan’ (the unity), dan dilemparkan ke alam serbaragam dan kepribadiannya menjadi pecah berkeping-keping.”

Nabi ‘Isa as mengatakan, ”Tuhan selalu bersama kita jika kita berserah diri kepada-Nya dan jika kita mencintai-Nya lebih dari yang lain-lain, bahkan diri kita.”

Sesungguhnya Kesadaran Ilahi telah ditanamkan di dalam hati tiap-tiap keturunan Adam. Ketika kita berserah diri, Kehendak Tuhan akan bergerak melalui kita dan tindakan kita dan menjadi tindakan-Nya. Apa yang kita harus lakukan adalah berserah diri. Inilah makna pengorbanan yang nyata, dengan mengorbankan diri yang semu (pseudo-self) dalam rangka menjangkau Diri Ilahi (nafs ilahi). Apa yang kita pertahankan dari kesatuan itu adalah ‘keaku-an’ (me-ness) yang ditempatkan di tengah-tengahnya.

Berbicara tentang realitas, Hafiz, Sufi Persia bersyair :

Engkau sendirilah yang menghijab dirimu, Hafiz..
karena itu lepaskanlah dirimu!

Setiap saat Tuhan bersama kita. Jika Dia tidak bersama kita, pasti kita tak bisa berdiri di atas ke dua kaki kita atau kita takkan bisa melangkah. Di dalam Qur’an, Allah SwT berfirman, ”Dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.” (QS 50 : 16). Jadi, Dia senantiasa hadir dekat kita, tetapi kita tidak hadir dengan-Nya.

Kita selalu sibuk dengan diri kita, pikiran, emosi dan keinginan-keinginan kita. Bahkan ketika kita mengharapkan untuk dekat dengan-Nya, karena harapan, pikiran dan hasrat kita tersebut justru membuat kita semakin jauh dari-Nya.

Kita tidak akan dapat memenuhi pikiran kita dengan Dia selama pikiran kita penuh oleh ‘diri’ kita sendiri. Ketika kita berpikir atau berhasrat, itu berati ‘kita’ telah menjadi bagian dari ‘diri’ itu sendiri, dan semakin besar kita mencoba mendekat kepada-Nya, justru semakin jauh jarak yang kita buat. 13]

Di antara tanda berhasilnya akhir perjuangan adalah penyerahan diri kepada Allah yang dilakukan sejak awal perjuangannya. 14]

4. KEIKHLASAN
Imam Ali as mengatakan, Ibadah yang ikhlas itu adalah apabila seseorang tiada ber­harap kecuali kepada Tuhannya dan tiada yang ia takuti kecuali dosanya. 15] Betapa pun beragamnya kualitas kepentingan manusia atau beragamnya ekspresinya dari satu zaman ke zaman yang lain, kepentingan manusia tetap dapat dibagi menjadi dua macam :

1. Suatu kepentingan yang hasil dan pencapaian materilnya kembali pada diri orang itu sendiri di mana kerja dan usahanya bergantung pada pencapaiannya akan keinginannya tersebut.

2. Kepentingan yang tujuannya tidak kembali pada pelaku langsung atau kelompok dimana ia berasal. Kepentingan jenis ini meliputi semua kerja keras yang tujuannya lebih tinggi daripada pelaku itu sendiri, karena setiap tujuannya yang besar biasanya tidak dapat dicapai melainkan dengan kerja keras atau usaha kolektif dalam jangka waktu yang lama.

Kepentingan jenis pertama menjamin alasan terdalam seseorang , usaha, serta kesediaan menjaganya, karena pelaku merupakan orang yang memetik hasil kepentingannya dan secara langsung menikmatinya. Adalah suatu yang alamiah jika terdapat usaha dalam dirinya untuk menjaga dan berusaha memeliharanya.

Sedangkan kepentingan kedua, alasan untuk menjaga kepentingan ini tidak mencukupi. Kepentingan di sini bukan hanya pelaku yang aktif. Seringkali peranan usaha dan kerja kerasnya lebih besar daripada kepentingannya.

Dengannya, manusia memerlukan didikan subjektifitas tujuan dan penafian diri dalam alasannya. Contohnya adalah keharusan bekerja untuk kepentingan orang lain atau kelompok. Dengan kata lain, ia mesti bekerja untuk tujuan yang lebih besar daripada eksistensinya sendiri serta kepentingan-kepentingan materialistisnya. Kepentingan jenis kedua ini memerlukan penafian diri, karena kerja berikut hasilnya dipersembahkan orang lain, atau dengan kata lain : menanam benih yang buahnya tidak akan terlihat oleh orang yang menanamnya.

Oleh karena itu, adalah perlu menggugah setiap orang untuk melakukan kerja keras dan usaha yang tidak hanya diperuntukan bagi dirinya dan kepentingan materialistisnya, sehingga ia mampu meningkatkan penafian diri dengan tujuan yang lebih objektif lagi. Seperti yang telah diketahui, ibadah ritual merupakan perbuatan manusia yang dilakukan untuk mencari ridha Allah.

Oleh karena itu, usaha tersebut akan menjadi tidak dibenarkan apabila seorang hamba hanya berusaha atau beribadah untuk kepentingan pribadinya. Ibadah ritual tidak dibenarkan jika tujuan yang melatarbelakanginya adalah kebanggaan pribadi (‘ujub), mencari perhatian publik (riya’), atau pengabdian terhadap egonya sendiri, di dalam dirinya dan lingkungannya.

Sekiranya kita mengetahui semua ini, kita dapat menggambarkan kedalaman dan kapasitas latihan spiritual dan psikologi yang dilakukan manusia melalui ibadah ritual untuk tujuan yang objektif, yaitu untuk memberi dan berkorban, bekerja untuk tujuan yang lebih tinggi di semua bidang dan usaha manusia.

Berdasarkan hal ini, Anda dapat mengetahui perbedaan yang besar antara orang yang hidup bekerja dan beribadah untuk mencari ridha Allah, atau tepatnya : bekerja keras tanpa menanti balasan kerja kerasnya dengan orang yang bekerja dengan pamrih-pamrih tertentu. 16]

Imam al-Shadiq as berkata, ”Sudah semestinya bagi seorang hamba itu memurnikan niatnya di dalam setiap gerak dan diamnya. Karena jika ia tidak berada dalam keadaan seperti ini berarti ia adalah seorang yang lalai (ghafilan), padahal mereka, al-ghafilun, disifatkan Allah Ta’ala di dalam firman-Nya, ”Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi”, dan firman-Nya,”mereka itulah orang-orang yang lalai (al-ghafilun)…” 17]

Firman-Nya, ”Katakanlah : Allah! Kemudian tinggalkan yang lain-lain di dalam pertengkaran mereka yang remeh dan mereka (terus) bermain-main.” (QS Al-An’am [6] ayat 91)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki :
1. Ibn ‘Ata’Allah, The Key To Salvation: A Sufi Manual of Invocation,
p. 1592. Rumi, Fihi Ma Fihi 193/202; William C. Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi, hal. 287
3. William C. Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi, hal. 289
4. Llewellyn Vaughan-Lee, Travelling the Path of Love, p. 109, Inverness, California: The Golden Sufi Center, 1995.
5. Ibn ‘Athaillah, al-Hikam, hikmah no. 11
6. Al-Mahasin hal. 242, Husain Mazhahiri, Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani, hal. 331
7. Henry Corbin, Creative Imagination in the Sufism of Ibn `Arabi, p. 196, Trans. Ralph Manheim. Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1969)
8. Epifani : epiphany : theophany : bermanifestasi atau “menampakkan diri”
9. Ibid, p. 310.
10. Tafsir al-‘Iyasyi 1 : 5
11. Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 75 : 192.
12. Ibid 70 : 64.
13. Sheikha Fatima Fleur Nassery Bonnin, Surrender, Digital Islamic Library.
14. Ibn ‘Athaillah, Al-Hikam, hikmah no. 26.
15. Mizan al-Hikmah 6 : 29.
16. Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir al-Shadr, Aspek Filosofis Ritual Islam, Jurnal al-Huda Vol. II, No. 4, 2001.
17. Mustadrak al-Wasail 1 : 10.





Readmore »»

rendah hati

Ibn ‘Ata’Allah dalam kitabnya Al Hikam mengajarkan : tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab segala sesuatu yang tumbuh dari benih yang tidak ditanam, niscaya tidak akan berbuah dengan sempurna.




Merendahlah, engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina

(Alm. Ust. Rahmat Abdullah)

Readmore »»

Thursday, July 31, 2008

Ketika Allah Menjadi Tujuan

Ketika Allah Menjadi Tujuan
( KH Abdullah Gymnastiar )



Ada kejadian menarik ketika saya melakukan umroh beberapa waktu lalu. Di depan Multazam sempat terjadi keributan antara dua orang. Seorang dari mereka ngotot ingin terus berdoa, sedangkan seorang lagi ingin segera kebagian jatah berdoa.

"Hai cepat berdoanya, sekarang jatahnya orang lain!," bentaknya. Semakin diminta berhenti, orang yang dibentak tersebut malah terlihat semakin khusyuk dan terus merapat ke dinding. Orang itu bertambah kesal. Ditariknya orang yang tengah berdoa itu hingga hampir terjatuh. Adu mulut pun tak terelakkan. Tampaknya orang yang ditarik tidak terima dengan perlakukan tersebut.

"Kenapa kamu berbuat kasar kepada saya?," ujarnya.

"Kamu tidak tahu diri. Yang ingin berdoa di sini bukan cuma kamu, saya juga!," balas yang satu lagi.

"Saya jauh-jauh datang ke sini untuk berdoa, saya rindu kepada Allah, tapi mengapa tega-teganya engkau berbuat kasar kepadaku?"

"Yang rindu dan butuh kepada Allah bukan hanya kamu, aku pun sama. Aku pun jauh-jauh datang ke sini untuk memenuhi panggilan Allah."

Sejenak keduanya terdiam, termenung dan saling pandang.

"Eh, kalau Allah tujuan kita, kenapa ya kita sampai bertengkar!"

"Iya ya, betul juga, kenapa kita saling menyakiti."

Menarik sekali, sesudah bicara seperti itu kedua orang tersebut berpelukan dan saling meminta maaf. Indah sekali. Kejadian ini terjadi persis di depan saya. Ketika itu saya tidak bisa bicara apa-apa, selain mengucapkan tasbih dan takbir. Terpesona akan kekuasaan Allah dalam membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya yang beriman. Awalnya saling benci, tak lama kemudian saling menyayangi.

Hikmah terbesar dari kejadian langka ini adalah, apapun yang dilakukan karena Allah, pasti akan berbuah kebaikan. Setiap masalah yang dikembalikan kepada Allah, pasti akan terselesaikan dengan baik, tidak akan berlarut-larut. Lihatlah masa Rasulullah SAW dan para sahabat. Hampir tidak ada masalah yang berlarut-larut dan tak terpecahkan, karena semuanya dikembalikan kepada Allah.

Logikanya jelas, kita adalah ciptaan Allah, yang menguasai segenap masalah adalah Allah, yang paling tahu kebutuhan kita adalah Allah, yang layak menjadi tujuan hidup kita adalah Allah, semua kejadian ada dalam genggaman Allah. Maka, apa yang diputuskan Allah pasti yang terbaik bagi kita. Allah tidak mungkin mendzalimi hamba-hamba-Nya.

Saudaraku, yang membuat hidup kita ruwet, penuh konflik yang tak terselesaikan, adalah ketika kita lebih mengedepankan hawa nafsu serta kepentingan diri daripada aturan dan kehendak Allah. Sebab, di mana pun dan kapan pun, selama kita lebih memperturutkan nafsu, selama itu pula hidup akan sengsara. Sayangnya, kita lebih mempercayai kemampuan diri yang tidak ada apa-apanya ini, dibanding dahsyatnya pertolongan Allah. Maka tak heran andai masalah senantiasa membelenggu dan menenggelamkan kita.

Ingin bahagia dalam hidup? Jadikanlah Allah sebagai tujuan dan cita-cita hidup kita. Ingin keluarga harmonis, sakinah mawaddah wa rahmah? Jadikanlah aturan Allah dan Rasul-Nya sebagai pedoman hidup berkeluarga. Wallaahu a'lam.




Tabloid Jumat, Republika

 

__._,_.___

Readmore »»