Showing posts with label my lovely Islam. Show all posts
Showing posts with label my lovely Islam. Show all posts

Wednesday, August 20, 2008

Al Muzani belajar wudhu

Al Muzani belajar wudhu

……. ada orang orang yang wudhu saja belum benar, tapi sudah dengan gagah bicara tentang kebebasan beragama. Tentang keyakinan akan kebenaran, tentang Tuhan yang tidak boleh otoriter, tentang agama yang harus ditafsirkan dengan bebas atas nama demokrasi …….

Al Muzani gundah. Ia terserang penyakit pemikiran. Sesuatu yang dimasa itu dikenal dengan ilmu kalam. Intinya mendalami ilmu tauhid dan eksistensi ketuhanan Allah dengan logika-logika rasional murni. Misalnya tentang sifat-sifat Allah yang dipertanyakan dengan membandingkan sifat manusia. Tentang takdir, apakah manusia punya hak pilih dalam perilaku atau terpaksa. Bagaimana cara Allah bicara, dengan huruf atau tidak, apakah huruf itu diciptakan atau tidak. Begitu seterusnya.



Al Muzani sering terseret mengunyah-ngunyah kerumitan logika seperti itu yang tengah marak. Al Muzani sendiri dikenal sebagai sosok muda yang sangat suka belajar sejak usia belia. Hari itu kegundahannya datang lagi. Ia pun menemui Imam Syafii, ulama besar yang mulai menetap di negerinya (Mesir), setelah sebelumnya menjadi ulama besar di Mekkah dan Irak.

Imam Syafii marah seraya bertanya, “ tahukah kamu berada di mana dirimu saat ini.”
“ Ya, disini,di tempat ini,” jawab Muzani
“ bukan. Kamu berada di Taron, sebuah tempat dilautan yang sangat berbau, tempat dimana firaun dan kaumnya ditenggelamkan,”jawab Imam Syafi’I.

Lalu Imam syafii melanjutkan, “ pernahkah kamu mendengar Rasulullah memerintahkan kita untuk menanyakan hal-hal seperti itu.”
“ tidak,” jawab Al Muzani
“Kamu tahu jumlah bintang dilangit, dan kapan masing-masing terbit serta kapan tenggelam ?”
“ tidak,” jawab Al Muzani

"sesuatu yang kamu bisa lihat dengan mata saja kamu tidak tahu, sekarang kamu mau mengaduk aduk secara ngawur seputar masalah penciptanya ?”
kemudian Imam Syafii bertanya lagi kepada Al Muzani tentang masalah dalam soal wudhu.
“tapi jawabanku salah,”kenang Al Muzani

Lantas Imam Syafii membagi soal wudhu kepada empat hal. “ dan menanyakan satu persatu kepadaku. Tapi tak ada satupun jawabanku yang benar,” kata Al Muzani.

Maka Imam Syafii marah dan berkata lagi, “ bagaimana kamu ini. Ilmu tentang sesuatu yang harusnya kamu ketahui (wudhu) karena kamu perlukan minimal lima kali setiap hari saja kamu tidak mengerti. Lalu kamu membebani dirimu dengan ilmu yang tidak jelas tentang Tuhan. Jika muncul rasa ragu di dalam dirimu katakan, “ dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang Satu, Tidak ada Tuhan selain Dia, dan Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” [ Al Baqarah : 163 ]

Sesudah dialog itu Al Muzani bertaubat dan mendalami ilmu fiqih, berguru pada Imam Syafii. Pasti salah satu yang dipelajari adalah soal wudhu yang ia salah dalam menjawab. Kelak Al Muzani merupakan salah satu murid Imam Syafii yang berhasil menjadi tokoh besar. Ia berperan penting dalam menyebarkan ilmu Imam Syafii. Imam Syafii pernah berkomentar, “ AL Muzani adalah penopang dan penyebar madzhabku.”

Al Muzani adalah kisah tentang obsesi pengetahuan dan pemikiran yang punya sisi kerinduannya. Seperti juga kerinduan perasaan akan hal-hal yang mengesankan, akal punya kerinduannya sendiri. Seperti kerinduan fisik kepada sentuhan, perut pada makanan, mata pada pandangan, seperti itu pula akal pikiran punya tautan rindu dan tambatan penggantungannya sendiri: rindu akan pengetahuan dan olah pikir.

Tak jarang semua kerinduan itu kita larikan ke alamat yang salah. Dengan pergulatan yang tak perlu. Maka gayungpun tak pernah bersambut. Kegundahan Al Muzani tidak pernah memberinya kepuasan ilmu. Sebab yang ditekuni jelas-jelas salah.

Potongan awal sejarah Al Muzani adalah wajah kebanyakan kita. Ada orang orang yang wudhu saja belum benar, tapi sudah dengan gagah bicara tentang kebebasan beragama. Tentang keyakinan akan kebenaran, tentang Tuhan yang tidak boleh otoriter, tentang agama yang harus ditafsirkan dengan bebas atas nama demokrasi, dan tentu saja tentang hal-hal aneh lainnya.

Sejarah Al Muzani adalah sejarah kebanyakan kita. Tapi mungkin tidak seutuhnya. Al Muzani pernah seperti itu, tapi kemudian bertaubat, belajar, berguru dan menjadi tokoh besar. Tapi banyak dari kita tetap tenggelam dalam kekacauan pemikiran,kekacauan kerinduan yang salah alamat, dan tak pernah kunjung menjadi tokoh besar. Satua atau dua mungkin menjadi orang besar. Tapi menjadi besar hanya karena berani berulah controversial.

Ini bukan gerakan membodohi diri dan menolak kemajuan berfikir. Tapi ini adalah semangat tentang tahu diri, menghormati kesucian agama, dan tidak meletakkan Tuhan serta otoritas hukum-Nya dalam timbangan yang keliru.

Tidak boleh ada lagi kerinduan-kerinduan kita yang salah alamat. Kita harus melejitkannya menjadi tambatan yang benar. Menjadi besar tidak sama dengan memilih angkuh dan bertindak bodoh. Seperti Al Muzani, ia pernah tak mengerti soal wudhu. Tapi ia memulai kebesarannya dengan mengubah kerinduan yang salah alamat ke tautan hidup yang benar dan menentramkan.



[ disarikan dari majalah Tarbawi 2008 ]






Readmore »»

Wednesday, August 06, 2008

4 Aspek Penting Di dalam ‘Ubudiyyah

aspek.jpg

“Tidak mungkin suatu pengetahuan tentang Tuhan
(ma’rifat - gnosis) dapat muncul di dalam hati seseorang
dan dapat dicapai dengan tujuan selain mematuhi Tuhan,
mencintai, dan menghamba kepada-Nya.
Ma’rifat harus dicari dengan dasar hanya berharap
kepada-Nya, bukan dengan alasan lain apa pun”

Ibn ‘Ata’Allah 1]

Ibadah sesungguhnya mengandung 4 aspek penting yang antara lain:

1. KERENDAHAN HATI
Ketika cinta al-Hallaj mencapai puncaknya, menjadi musuh bagi dirinya sendiri dan sirnalah ia. Katanya, ”Akulah Tuhan – Ana al-Haqq” artinya, ”Aku telah sirna; Tuhan yang ada, tiada yang lain.” Inilah batas kerendahan hati dan puncak kehambaan. Artinya, ”Hanya Dia yang ada.”

Membuat sebuah pernyataan yang salah dan menjadi bangga, dengan mengatakan, ”Engkaulah Tuhan dan akulah hamba.” Sebab dalam hal ini engkau menegaskan eksistensimu sendiri, dan dualitaslah hasilnya. Jika engkau mengatakan,”Dia-lah Tuhan” hal itu juga menunjukkan dualitas, karena tidak akan ada “Dia” jika tanpa ‘aku”. Karenanya, Tuhan berkata, ”Akulah Tuhan.” tidak “Dia.” yang mengandung arti bahwa ‘ada yang lain’. Al-Hallaj telah mencapai fana, sehingga apa yang dikatakannya adalah kata-kata Tuhan. 2]

Hanya ketika nafs (ego) manusia sirna dan mencapai fana, dia baru dapat berkata,”Aku.” Namun, setelah itu dia tidak lagi mengatakannya, karena sifat-sifatnya telah digantikan oleh sifat-sifat Tuhan. Dalam baqa di dalam Tuhan ini, seseorang benar-benar telah ‘menjalankan Amanat’ dan menjadi khalifah Tuhan di muka bumi, memiliki kesadaran penuh dan seutuhnya mengejewantahkan Wujud-Nya.

Dan jika seseorang berkata, ”Aku.” sebelum mencapai maqam ini, hal itu justru jadi penegasan akan eksistensi dirinya sendiri. Bahkan jika dia seorang mu’min mengatakan, ”Aku ada dan Tuhan ada”, tentu saja ini bertentangan dengan pernyataan syahadatnya : “Bahwa Tiada realitas (tuhan) kecuali Yang Nyata(Allah).” Karena ke-aku-an adalah realitas, sedangkan ke-aku-an manusia adalah realitas semu.

Rumi bersyair :
Fir’aun berkata : ‘Akulah Tuhan!’,
dan ia binasa,
tapi al-Hallaj berkata : ‘Akulah Tuhan!’
dan ia selamat!”
3]

Jika seseorang memujimu : ‘betapa baik (shalih)-nya kamu!’ dan hal ini membuat kamu merasa lebih senang ketimbang ketika seseorang mengatakan : ‘Betapa buruknya kamu!’, maka berarti keadaan batinmu masih buruk. 4]
Oleh karena itu, tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab segala sesuatu yang tumbuh dari benih yang tidak ditanam, niscaya tidak akan berbuah dengan sempurna. 5]

2. KETAATAN YANG MENDALAM
Di dalam sebuah hadits Qudsi, Allah SwT telah berfirman, ”Tidaklah bumi-Ku dan langit-Ku mampu meliputi-Ku, akan tetapi hati seorang hamba-Ku yang beriman mampu meliputi-Ku.” 6]

Muhyiddin Ibn ‘Arabi mengatakan, ”Hal ini karena hati sang mu’min laksana sebuah cermin di mana ‘bentuk Tuhan’ termanifestasi , yang pada setiap saat terefleksi pada tingkatan dari Mikrokosmos.” 7]

Setiap hamba menyatakan suatu kepercayaan khusus kepada Tuhannya, dari siapa ia meminta bantuan menurut pengetahuan yang ia miliki. Dengan demikian, iman berbeda dengan Tuhan, sama halnya Tuhan berbeda, walaupun semua iman adalah bentuk-bentuk dari satu iman, sama halnya semua Tuhan membentuk di dalam cermin Tuhan dari segala tuhan....

Tuhan tidak dibatasi pada cara di mana Dia ber-epifani 8] kepadamu dan membuat Diri-Nya mencakup ke dimensimu untuk menerima-Nya. Dan itulah mengapa makhluk lainnya tidak berkewajiban untuk mematuhi Tuhan, yang menuntut pengabdianmu, sebab teofani mereka mengambil format lain. Format di mana Dia berepifani kepadamu adalah berbeda dari di mana Dia berepifani kepada yang lain. Tuhan sebagaimana Dia bertransendensi (munazzah) pada semua yang dapat dimengerti, dapat dibayangkan, atau bentuk yang masuk akal, tetapi yang dipertimbangkan di dalam nama dan sifat-Nya, yang adalah teofani-Nya.

Dia adalah, sebaliknya, tidak dapat dipisahkan dari bentuk-bentuk ini, yang adalah, dari suatu figur tertentu dan suatu situs tertentu di dalam ruang dan waktu. 9] Seperti diisyaratkan dalam hadits lainnya, ”Hati seorang mu’min adalah ‘Arsy Allah.” 10]

Imam al-Shadiq as mengatakan, ”Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan tanpa keluarga besar, menginginkan kekayaan tanpa harta, dan menginginkan kewibawaan tanpa kekuasaan, maka hendaknya dia berpindah dari kehinaan maksiat kepada Allah menuju ketaatan kepada-Nya.” 11]

3. BERSERAH DIRI
Adalah penting untuk menjadi jelas tentang kepada siapa kita berserah diri, apa yang kita serahkan dan bagaimana kita berserah diri. Biasanya kita menyerah pada ego kita. Itu menjadi sangat otomatis, karena kebanyakan dari waktu kita, kita tidak memperhatikannya.

Suatu saat beberapa pengetahuan telah kita peroleh dan membuat kemajuan; tanda yang pertama dari seorang salik (pejalan ruhani) muncul dengan suatu perubahan yang fundamental. Perubahan ini sekitar usaha untuk berserah diri secara konstan kepada Tuhan sebagai ganti berserah diri kepada tuntutan-tuntutan dan hasrat ego-personalitas atau nafs.

Kita harus bertanya kepada diri kita, apa yang akan kita serahkan? Tentu saja bukan kekayaan kita, atau pun seseorang yang kita cintai, atau juga semua yang kita miliki. Tuhan tidak memiliki hasrat terhadap semua itu. Sebenarnya yang mesti kita serahkan kepada-Nya adalah ego-personalitas kita (nafs), karena ego merupakan instrumen-instrumen yang membentuk rintangan di dalam usaha kita untuk mendekat kepada Tuhan, dan penghalang dari hasrat Tuhan kepada kita untuk mendapatkan kedekatan dengan-Nya dan untuk mengenal-Nya.

Sekarang pertanyaan yang tinggal adalah : bagaimana cara kita berserah diri kepada Tuhan?

Kita harus menyerahkan seluruh instrumen-instrumen ego, yang kenyataannya adalah semua pikiran, emosi, keinginan dan hasrat kita. Selama ini ego-personalitas kita telah mendominasi diri kita, karena instrumen-instrumen ini, atau dengan kata lain senjata-senjata ini digunakan oleh ego personal kita.

Bayangkan oleh Anda jika bahwa di dalam diri kita ada seorang musuh yang mengontrol jiwa kita, bersenjata dengan senjata-senjata ini. Mungkin karena ini pula Rasulullah Saw bersabda, ”Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafs-mu yang berada di antara ke dua lambungmu.” 12]

Oleh karena itu satu-satunya cara untuk memerangi dan menundukkannya adalah dengan membuang senjata-senjata itu. Bagaimanapun, hal ini bukan tugas yang gampang, karena, sejak awal kita percaya bahwa ‘personalitas’ itu adalah ‘kita’, dan ‘kita’ adalah ‘personalitas’ itu. Suatu tingkat kesadaran tertentu diperlukan untuk menyadarkan diri kita bahwa ada sesuatu yang lebih dari kita, yaitu : bahwa personalitas (kepribadian) hanya suatu selubung luar yang menutupi diri hakiki (inner self) atau esensi kedirian (essential self) kita.

Namun tanpa disadari, kita telah membentuk ‘tambahan-tambahan’ (attachments) pada struktur diri ini dan kita mengidentifikasikan ‘tambahan-tambahan’ itu sebagai identitas kita. Masalah lainnya adalah bahwa sifat alamiah ego yang senantiasa memanipulasi. Hal ini membuat kita, (meminjam istilah Sufi), jatuh hampir setiap saat; bahwa kita ingin menunggang keledai nafs dan menarik kendalinya, hanya untuk menemukan bahwa menit berikutnya kita sedang berjalan di belakang keledai mengikuti kemana keledai itu pergi.

Ego memiliki suatu yang dijalankan penuh untuk kita dan telah menjadi suatu kekuatan hebat yang takkan menyerah dengan mudah. Perjuangan internal melawan nafs telah disebut Nabi saww sebagai Jihad Akbar (peperangan yang terbesar) – yang lebih besar dari peperangan di medan perang yang sesungguhnya.

Perjalanan hidup seperti ini adalah perjuangan untuk melepas jubah ego personalitas yang menutupi diri kita yang sebenarnya, dan menjadi tersadarkan (self conscious), selagi diberi kesempatan untuk melempar jubah tersebut dan kembali ke status Kesadaran Ilahiah. Inilah tujuan sesungguhnya penciptaan kita.

Kebutuhan yang paling penting bagi kita adalah memiliki ketulusan (ikhlash) dan iman. Jika kita memilikinya, maka bantuan ghaib, suatu petunjuk atau bisa jadi seorang guru spiritual akan muncul.

Dilema manusia muncul ketika jiwa manusia terperangkap di antara kekuatan Ilahi dan kekuatan ego. Ketika kekuatan ego menarik kita bawah, kekuatan yang lebih rendah bahkan menambah kekacauan dan ketidakseimbangan di dalam diri kita dan hidup kita. Kekuatan ego ini akan mempertahankan diri agar kita tetap berada di bawah kontrolnya.

Pada sisi lain, jika jiwa kita naik ke alam yang lebih tinggi, kekuatan yang lebih rendah tidak memiliki banyak akses untuk mengendalikan kita, dan kita dapat langsung menerima bantuan dari alam yang lebih tinggi tersebut, (kecuali jika kita tergelincir dan harus berikhtiar untuk menghantam balik) Ini merupakan salah satu pertimbangan yang di dalam Sufisme banyak penekanan di sekitar pencari yang tulus dan menghindar dari orang-orang yang dikendalikan ego, karena, sebagaimana hukum “cinta menarik cinta”, sehingga kita bisa dengan mudah untuk ditarik dan tergelincir.

Untuk naik ke alam yang lebih tinggi, kita harus bisa berserah diri. Untuk itu, kita harus menyerahkan seluruh pikiran, emosi dan hasrat keinginan kita. Ironisnya, dengan berserah diri, kita menjadi mampu menerima dan merespon apapun juga yang Tuhan tunjukkan ke jalan-Nya tanpa penyimpangan dari ego personalitas.

Fatima Fleur Nassery Bonnin, seorang sufi wanita, telah berbicara dengan Syekh-nya lewat telepon dan sang Syekh berkata, “Aku tidak berpikir. Aku hanya melakukan apa yang diletakkan di hadapanku.”. Pendengaran batin sang sufi wanita mendengar makna yang dalam dari pernyataan ini dan ia mengalami efek yang luar biasa. Dia mengatakan lagi, ”Bayangkan, melakukan dan merespon apa yang Tuhan letakkan di hadapan kita tanpa terperangkap dalam emosi dan pemikiran seseorang. Secepat seseorang membiarkan pikiran, emosi atau hasrat keinginannya masuk, secepat itu ia ditarik keluar dari ‘kesatuan’ (the unity), dan dilemparkan ke alam serbaragam dan kepribadiannya menjadi pecah berkeping-keping.”

Nabi ‘Isa as mengatakan, ”Tuhan selalu bersama kita jika kita berserah diri kepada-Nya dan jika kita mencintai-Nya lebih dari yang lain-lain, bahkan diri kita.”

Sesungguhnya Kesadaran Ilahi telah ditanamkan di dalam hati tiap-tiap keturunan Adam. Ketika kita berserah diri, Kehendak Tuhan akan bergerak melalui kita dan tindakan kita dan menjadi tindakan-Nya. Apa yang kita harus lakukan adalah berserah diri. Inilah makna pengorbanan yang nyata, dengan mengorbankan diri yang semu (pseudo-self) dalam rangka menjangkau Diri Ilahi (nafs ilahi). Apa yang kita pertahankan dari kesatuan itu adalah ‘keaku-an’ (me-ness) yang ditempatkan di tengah-tengahnya.

Berbicara tentang realitas, Hafiz, Sufi Persia bersyair :

Engkau sendirilah yang menghijab dirimu, Hafiz..
karena itu lepaskanlah dirimu!

Setiap saat Tuhan bersama kita. Jika Dia tidak bersama kita, pasti kita tak bisa berdiri di atas ke dua kaki kita atau kita takkan bisa melangkah. Di dalam Qur’an, Allah SwT berfirman, ”Dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.” (QS 50 : 16). Jadi, Dia senantiasa hadir dekat kita, tetapi kita tidak hadir dengan-Nya.

Kita selalu sibuk dengan diri kita, pikiran, emosi dan keinginan-keinginan kita. Bahkan ketika kita mengharapkan untuk dekat dengan-Nya, karena harapan, pikiran dan hasrat kita tersebut justru membuat kita semakin jauh dari-Nya.

Kita tidak akan dapat memenuhi pikiran kita dengan Dia selama pikiran kita penuh oleh ‘diri’ kita sendiri. Ketika kita berpikir atau berhasrat, itu berati ‘kita’ telah menjadi bagian dari ‘diri’ itu sendiri, dan semakin besar kita mencoba mendekat kepada-Nya, justru semakin jauh jarak yang kita buat. 13]

Di antara tanda berhasilnya akhir perjuangan adalah penyerahan diri kepada Allah yang dilakukan sejak awal perjuangannya. 14]

4. KEIKHLASAN
Imam Ali as mengatakan, ”Ibadah yang ikhlas itu adalah apabila seseorang tiada ber­harap kecuali kepada Tuhannya dan tiada yang ia takuti kecuali dosanya. 15] Betapa pun beragamnya kualitas kepentingan manusia atau beragamnya ekspresinya dari satu zaman ke zaman yang lain, kepentingan manusia tetap dapat dibagi menjadi dua macam :

1. Suatu kepentingan yang hasil dan pencapaian materilnya kembali pada diri orang itu sendiri di mana kerja dan usahanya bergantung pada pencapaiannya akan keinginannya tersebut.

2. Kepentingan yang tujuannya tidak kembali pada pelaku langsung atau kelompok dimana ia berasal. Kepentingan jenis ini meliputi semua kerja keras yang tujuannya lebih tinggi daripada pelaku itu sendiri, karena setiap tujuannya yang besar biasanya tidak dapat dicapai melainkan dengan kerja keras atau usaha kolektif dalam jangka waktu yang lama.

Kepentingan jenis pertama menjamin alasan terdalam seseorang , usaha, serta kesediaan menjaganya, karena pelaku merupakan orang yang memetik hasil kepentingannya dan secara langsung menikmatinya. Adalah suatu yang alamiah jika terdapat usaha dalam dirinya untuk menjaga dan berusaha memeliharanya.

Sedangkan kepentingan kedua, alasan untuk menjaga kepentingan ini tidak mencukupi. Kepentingan di sini bukan hanya pelaku yang aktif. Seringkali peranan usaha dan kerja kerasnya lebih besar daripada kepentingannya.

Dengannya, manusia memerlukan didikan subjektifitas tujuan dan penafian diri dalam alasannya. Contohnya adalah keharusan bekerja untuk kepentingan orang lain atau kelompok. Dengan kata lain, ia mesti bekerja untuk tujuan yang lebih besar daripada eksistensinya sendiri serta kepentingan-kepentingan materialistisnya. Kepentingan jenis kedua ini memerlukan penafian diri, karena kerja berikut hasilnya dipersembahkan orang lain, atau dengan kata lain : menanam benih yang buahnya tidak akan terlihat oleh orang yang menanamnya.

Oleh karena itu, adalah perlu menggugah setiap orang untuk melakukan kerja keras dan usaha yang tidak hanya diperuntukan bagi dirinya dan kepentingan materialistisnya, sehingga ia mampu meningkatkan penafian diri dengan tujuan yang lebih objektif lagi. Seperti yang telah diketahui, ibadah ritual merupakan perbuatan manusia yang dilakukan untuk mencari ridha Allah.

Oleh karena itu, usaha tersebut akan menjadi tidak dibenarkan apabila seorang hamba hanya berusaha atau beribadah untuk kepentingan pribadinya. Ibadah ritual tidak dibenarkan jika tujuan yang melatarbelakanginya adalah kebanggaan pribadi (‘ujub), mencari perhatian publik (riya’), atau pengabdian terhadap egonya sendiri, di dalam dirinya dan lingkungannya.

Sekiranya kita mengetahui semua ini, kita dapat menggambarkan kedalaman dan kapasitas latihan spiritual dan psikologi yang dilakukan manusia melalui ibadah ritual untuk tujuan yang objektif, yaitu untuk memberi dan berkorban, bekerja untuk tujuan yang lebih tinggi di semua bidang dan usaha manusia.

Berdasarkan hal ini, Anda dapat mengetahui perbedaan yang besar antara orang yang hidup bekerja dan beribadah untuk mencari ridha Allah, atau tepatnya : bekerja keras tanpa menanti balasan kerja kerasnya dengan orang yang bekerja dengan pamrih-pamrih tertentu. 16]

Imam al-Shadiq as berkata, ”Sudah semestinya bagi seorang hamba itu memurnikan niatnya di dalam setiap gerak dan diamnya. Karena jika ia tidak berada dalam keadaan seperti ini berarti ia adalah seorang yang lalai (ghafilan), padahal mereka, al-ghafilun, disifatkan Allah Ta’ala di dalam firman-Nya, ”Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi”, dan firman-Nya,”mereka itulah orang-orang yang lalai (al-ghafilun)…” 17]

Firman-Nya, ”Katakanlah : Allah! Kemudian tinggalkan yang lain-lain di dalam pertengkaran mereka yang remeh dan mereka (terus) bermain-main.” (QS Al-An’am [6] ayat 91)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki :
1. Ibn ‘Ata’Allah, The Key To Salvation: A Sufi Manual of Invocation,
p. 1592. Rumi, Fihi Ma Fihi 193/202; William C. Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi, hal. 287
3. William C. Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi, hal. 289
4. Llewellyn Vaughan-Lee, Travelling the Path of Love, p. 109, Inverness, California: The Golden Sufi Center, 1995.
5. Ibn ‘Athaillah, al-Hikam, hikmah no. 11
6. Al-Mahasin hal. 242, Husain Mazhahiri, Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani, hal. 331
7. Henry Corbin, Creative Imagination in the Sufism of Ibn `Arabi, p. 196, Trans. Ralph Manheim. Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1969)
8. Epifani : epiphany : theophany : bermanifestasi atau “menampakkan diri”
9. Ibid, p. 310.
10. Tafsir al-‘Iyasyi 1 : 5
11. Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 75 : 192.
12. Ibid 70 : 64.
13. Sheikha Fatima Fleur Nassery Bonnin, Surrender, Digital Islamic Library.
14. Ibn ‘Athaillah, Al-Hikam, hikmah no. 26.
15. Mizan al-Hikmah 6 : 29.
16. Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir al-Shadr, Aspek Filosofis Ritual Islam, Jurnal al-Huda Vol. II, No. 4, 2001.
17. Mustadrak al-Wasail 1 : 10.





Readmore »»

rendah hati

Ibn ‘Ata’Allah dalam kitabnya Al Hikam mengajarkan : tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab segala sesuatu yang tumbuh dari benih yang tidak ditanam, niscaya tidak akan berbuah dengan sempurna.




Merendahlah, engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina

(Alm. Ust. Rahmat Abdullah)

Readmore »»

Dirham dan Dinar Mata Uang di Era Kejayaan Islam

Dirham dan Dinar Mata Uang di Era Kejayaan Islam

Peradaban Islam di era keemasan selama berabad-abad menjelma menjadi salah satu kekuatan perekonomian dunia. Tak heran, jika pada masa itu, kekhalifahan Islam sudah memiliki mata uang sendiri bernama dirham (koin perak) dan dinar (koin emas). Dengan menggunakan kedua mata uang itu, perekonomian di dunia Islam tumbuh dengan begitu pesat.

Sejarah penggunaan perak dan emas sebagai alat pertukaran, sejatinya telah berkembang jauh sebelum Islam hadir. Para peneliti sejarah Dirham menemukan fakta bahwa perak sebagai alat tukar sudah digunakan pada zaman Nabi Yusuf AS. Hal itu diungkapkan dalam Alquran, surat Yusuf ayat 20. Dalam surat itu tercantum kata darahima ma’dudatin (beberapa keping perak).

”Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah yakni beberapa dirham saja, dan mereka tidak tertarik hatinya kepada Yusuf,” (Alquran, surat 12:20). Tiga peneliti jejak dirham yakni MSM Syaifullah, Abdullah David, dan Muhammad Ghoniem dalam tulisannya berjudul Dirham in the Time of Joseph? menuturkan pada masa itu peradaban Mesir Kuno telah menggunakan perak sebagai alat tukar.

Sejarah mencatat, masyarakat Muslim sendiri mengadopsi penggunaan dirham dan dinar dari peradaban Persia yang saat itu dipimpin oleh Raja Sasan bernama Yezdigird III.


Bangsa Persia menyebut mata uang koin perak itu dengan sebutan drachm. Umat Islam mulai memiliki dirham dan dinar sebagai alat transaksi dimulai pada era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab RA.

Meski begitu, Rasululah SAW sudah memprediksikan bahwa manusia akan terlena dan tergila-gila dengan uang. Dalam salah satu hadits, Abu Bakar ibnu Abi Maryam meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Masanya akan tiba pada umat manusia, ketika tidak ada apapun yang berguna selain dinar dan dirham.” (Masnad Imam Ahmad Ibn Hanbal).

Pertama kali umat Islam menggunakan dirham pada tahun 642 M atau satu dasawarsa setelah Rasulullah SAW wafat. Khalifah Umar bin Khattab memutuskan untuk menggantikan drachma dengan dirham. Sedangkan koin dirham pertama kali dicetak umat Islam dicetak pada tahun 651 M pada era kepemimpinan Utsman bin Affan. Dirham pertama itu mencantumkan tulisan bismalah.

shahada1bw.jpg
Koin yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga abad ke-14 dengan tulisan syahadat pada kepingannya [foto: www.cyberistan.org]

Laiknya drachm, dirham berbentuk ceper serta tipis. Diameternya mencapai 29 mm dan beratnya antara 2,9 - 3,0 gram. Dari sisi berat, dirham lebih ringan dari drachm yang mencapai 4 gram. Sejak itulah, tulisan ‘bismilah’ menjadi salah satu ciri khas koin yang dicetak oleh peradaban Islam.

Selain itu, koin dirham-dinar yang dicetak umat Islam pada masa keemasan mencantumkan nama penguasa atau amir atau khalifah. Fakta sejarah menunjukan bahwa kebenyakan kepingan dirham dan dinar yang dicetak pada masa Khulafa Arrasyidin mencantumkan tahun Hijriyah sebagai penanda waktu koin dirham atau dinar itu dicetak.

Pemerintahan Muslim di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab pun telah menetapkan standar koin dirham dan dinar. Berdasarkan standar yang telah ditetapkan, berat 7 dinar setara dengan 10 dirham. Khalifah Umar bin Khattab pun telah menetapkan standar dinar emas yakni memakai emas dengan kadar 22 karat dengan berat 4,25 gram.

Sedangkan dirham perak haruslah menggunakan perak murni dengan berat 3,0 gram. Keputusan itu telah menjadi ijma ulama pada awal Islam dan pada masa para sahabat dan tabi’in. Sehingga menurut syari’ah, 10 dirham setara dengan 7 dinar emas. Hasil ijma itu menjadi pegangan, sehingga nilai perbandingan dinar dan dirham bisa tetap sesuai.

Namun, pada tahun 64 H/684 M, untuk pertama kalinya nilai dirham berkurang. Hal itu terjadi akibat keputusan ‘Ubaid Alih ibn Ziyad untuk mencampurkan logam lain pada dirham. Sepuluh tahun kemudian, di era kepemimpinan Khalifah Abdalmalik, mulai dicetak koin emas berbobot 4,4 gram dengan mencantumkan tulisan ‘Dinar’.

Tiga tahun kemudian, kekahlifahan Islam di bawah kepemimpinan Abdalmalik kembali mencetak cetak lagi dinar yang bobotnya berubah menjadi 4,25 gram — mengikuti standar yang ditetakan Khalifah ‘Umar bin Khattab RA. Pada tahun 75 H/695 M, Khalifah Abdalmalik memerintahkan Al-Hajjaj untuk mencetak dirham dan menggunakan standar yang ditetapkan di era Umar bin Khattab.

Koin perak bertulisan ‘dirham’ itu berbobot 2.975 gram dan berdiameter 25 - 28 mm. Setiap koin yang dicetak pada saat itu bertuliskan kalimat tauhid yakni: ”Allahu ahad, Allahu samad”. Sejak saat itu, dilakukan penghentian penggunaan gambar wujud manusia dan binatang dari mata uang peradaban Islam itu. Sebagai gantinya digunakan huruf-huruf.

Dinar dan dirham lazimnya berbentuk bundar. Selain itu, tulisan yang tercetak pada dua sisi koin emas dan perak itu memiliki tata letak yang melingkar. Pada satu sisi mata koin tercantum kalimat ‘tahlil’ dan ‘tahmid’, yaitu: ‘La ilaha ill’Allah’ dan ‘Alhamdulillah’. Sedangkan di sisi mata koin sebelahnya tertera nama penguasa (amir) dan tanggal pencetakkan. Selain itu, terdapat suatu kelaziman untuk menuliskan shalawat kepada Rasulullah SAW dan ayat-ayat Alquran dalam koin dirham dan dinar itu.

Mata uang dinar dan dirham pun menjadi mata uang resmi dinasti maupun kerajaan Islam yang tersebar di berbagai penjuru. Penggunaan dinar dan dirham perlahan mulai menghilang setelah jatuhnya masa kejayaan kekhalifahan Islam. Ketika dunia dilanda era kolonialisme Barat, mulailah diterapkan penggunaan uang kertas.

Sejarah telah membuktikan bahwa emas dan perak merupakan alat tukar paling stabil yang pernah dikenal dunia. Sejak awal sejarah Islam sampai saat ini, nilai dari mata uang Islam yang didasari oleh mata uang bimetal ini secara mengejutkan sangat stabil jika dihubungkan dengan bahan makanan pokok. Nilai inflasi mata uang ini selama 14 abad lamanya adalah nol. Adakah mata uang yang stabil seperti itu saat ini?

Uang Koin di Era Kekhalifahan


* Koin Kekhalifahan Umayyah (661 M - 750 M)
Di awal kekuasaannya, Dinasti Umayyah menggunakan koin perak Sassanin di wilayah Irak dan Iran. Sedangkan, di Suriah dan Mesir kehalifahan Umayyah menggunakan koin emas dan tembaga. Sebagai bagian dari upaya untuk menyatukan wilayah-wilayah yang dikuasainya, Khalifah Abdalmalik bin Marwan (685 M - 705 M) mulai mencetak koin emas pada tahun 961 M. Di pinggiran koin emas itu tertulis kalimat bismilah dan syahadat.

Dua tahun berikutnya, Dinasti Umayyah mencetak koin perak atau dinar. Dalam koin itu tercantum kalimat bismilah. Koin emas pada zaman itu dicetak secara khusus di Damaskus - ibu kota Dinasti Umayyah. Sedangkan, koin perak dan tembaga dicetak di kota-kota yang dikuasai Umayyah.

Pada era khalifah selanjutnya, Dinasti Umayyah mencetak dinar yang bernilai setengah dan sepertiga dinar. Ukuran dan beratnya jauh lebih kecil dan ringan dengan uag koin bernilai satu dinar. Setelah menguasai Afrika Utara dan Spanyol - penguasa Umayyah mulai membangun percetakan uang koin di provinsi itu. Khalifah pun bertanggung jawab untuk memastikan kemurnian dan berat koin yang dicetak.

* Koin Kekhalifahan Abbasiyah (750 M - 1258 M)
Ketika kekuasaan kekhalifahan Umayyah jatuh, percetakan koin di Damaskus pun ditutup. Di era awal kekuasaannya, Dinasti Abbasiyah mulai mencetak koin di Kufah - ibu kota pertama Abbasiyah. Khalifah Al-Mansur pun mulai membangun Baghdad dan mendirikan percetakan dirham di kota itu.

Koin emas mulai dicetak pada era kekuasaan Khalifah Harun Ar-Rasyid yang naik tahta pada tahun 786 M. Harun mencetak koin emas atas nama gubernur Mesir. Pada masa itu, Abbasiyah memiliki dua tempat percetakan uang, yakni di Baghdad serta di Fustat - Kairo Tua.

Percetakan koin di Mesir terbilang produktif. Setiap cetakan koin dari provinsi itu selalu mengatasnamakan gubernur yang didedikasikan bagi khalifah. Khalifah Al-Ma’mun (813 M) yang menggantikan Harun Ar-Rasyid mulai mencetak beragam jenis koin. Dengan cita rasa artistik yang tinggi, Al-Ma’mun memperbaiki tampilan koin. Sehingga koin yang dicetak tampak lebih indah. Apalagi, tulisan yang tertera pada koin menggunakan tulisan indah khas Kufah atau Kufi.

*Koin Andalusia (711 M - 1494 M)
Berbeda dengan wilayah Arab lainnya yang ditaklukkan Islam yang menggunakan koin penguasa sebelumnya, penguasa Islam mencetak khusus koin emas yang baru ketika menguasai Spanyol pada 711 M. Tulisan yang tercantum dalam koin itu adalah huruf latin.

Dinar khas Andalusia itu dicetak secara langsung di kota itu. Pada tahun 720 M, koin Arab asli pertama kali masuk ke wilayah itu. Gaya dan tulisan yang tercantum dalam koin itu menandakan bahwa dinar itu berasal dari Arab Afrika Utara yang dicetak setahun sebelumnya.

Muslim di Andalusia juga mulai memakai koin yang bernilai setengah dinar yang dicetak di damaskus pada 719 M. Koin emas terakhir yang dicetak di Andalusia dicetak pada era Nasrid Granada (1238 M - 1492 M).

* Koin Kekhalifahan Fatimiah (909 M - 1171 M)
Tiga khalifah pertama dari Kekhalifahan Fatimiyah yang berkuasa dari tiga ibu kota berbeda yakni, Quayrawan, Al-Mahdiya, dan Sabra-Mansuriyah mencetak koin emas dan perak sesuai dengan kebiasaan ortodok Sunni. Pada tahap awal, dinar yang dicetak Al-Mahdi mengikuti model dan ukuran serta desain yang digunakan Dinasti Aghlabid. Pada tahun 912 M, dinasti itu mulai mencetak dinar yang ringan dan berukuran lebih besar dengan menggunakan tulisan indah Kufi.

Pada tahun 922 M, percetakan uang dipindahkan ke Al-Mahdiyah dan lalu ke Al-Mansuriyah. Khalifah Al-Qa’im pada tahun 934 M mulai mengganti desain dan mulai mengadopsi tulisan indah Kufi. Koin yang bernilai seperempat dinar juga dicetak dinasti itu dari wilayah kekuasaannya di Sicilia. Ciri khas koin Fatimiyah yang beraliran Syiah adalah pernyataan yang mengungkapkan pertaliannya dengan Ali bin Abi Thalib.*(heri-ruslan/rep/tyn)

Wallahua’lam

***Sumber: Harian Republika




Readmore »»

Thursday, July 31, 2008

Ketika Allah Menjadi Tujuan

Ketika Allah Menjadi Tujuan
( KH Abdullah Gymnastiar )



Ada kejadian menarik ketika saya melakukan umroh beberapa waktu lalu. Di depan Multazam sempat terjadi keributan antara dua orang. Seorang dari mereka ngotot ingin terus berdoa, sedangkan seorang lagi ingin segera kebagian jatah berdoa.

"Hai cepat berdoanya, sekarang jatahnya orang lain!," bentaknya. Semakin diminta berhenti, orang yang dibentak tersebut malah terlihat semakin khusyuk dan terus merapat ke dinding. Orang itu bertambah kesal. Ditariknya orang yang tengah berdoa itu hingga hampir terjatuh. Adu mulut pun tak terelakkan. Tampaknya orang yang ditarik tidak terima dengan perlakukan tersebut.

"Kenapa kamu berbuat kasar kepada saya?," ujarnya.

"Kamu tidak tahu diri. Yang ingin berdoa di sini bukan cuma kamu, saya juga!," balas yang satu lagi.

"Saya jauh-jauh datang ke sini untuk berdoa, saya rindu kepada Allah, tapi mengapa tega-teganya engkau berbuat kasar kepadaku?"

"Yang rindu dan butuh kepada Allah bukan hanya kamu, aku pun sama. Aku pun jauh-jauh datang ke sini untuk memenuhi panggilan Allah."

Sejenak keduanya terdiam, termenung dan saling pandang.

"Eh, kalau Allah tujuan kita, kenapa ya kita sampai bertengkar!"

"Iya ya, betul juga, kenapa kita saling menyakiti."

Menarik sekali, sesudah bicara seperti itu kedua orang tersebut berpelukan dan saling meminta maaf. Indah sekali. Kejadian ini terjadi persis di depan saya. Ketika itu saya tidak bisa bicara apa-apa, selain mengucapkan tasbih dan takbir. Terpesona akan kekuasaan Allah dalam membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya yang beriman. Awalnya saling benci, tak lama kemudian saling menyayangi.

Hikmah terbesar dari kejadian langka ini adalah, apapun yang dilakukan karena Allah, pasti akan berbuah kebaikan. Setiap masalah yang dikembalikan kepada Allah, pasti akan terselesaikan dengan baik, tidak akan berlarut-larut. Lihatlah masa Rasulullah SAW dan para sahabat. Hampir tidak ada masalah yang berlarut-larut dan tak terpecahkan, karena semuanya dikembalikan kepada Allah.

Logikanya jelas, kita adalah ciptaan Allah, yang menguasai segenap masalah adalah Allah, yang paling tahu kebutuhan kita adalah Allah, yang layak menjadi tujuan hidup kita adalah Allah, semua kejadian ada dalam genggaman Allah. Maka, apa yang diputuskan Allah pasti yang terbaik bagi kita. Allah tidak mungkin mendzalimi hamba-hamba-Nya.

Saudaraku, yang membuat hidup kita ruwet, penuh konflik yang tak terselesaikan, adalah ketika kita lebih mengedepankan hawa nafsu serta kepentingan diri daripada aturan dan kehendak Allah. Sebab, di mana pun dan kapan pun, selama kita lebih memperturutkan nafsu, selama itu pula hidup akan sengsara. Sayangnya, kita lebih mempercayai kemampuan diri yang tidak ada apa-apanya ini, dibanding dahsyatnya pertolongan Allah. Maka tak heran andai masalah senantiasa membelenggu dan menenggelamkan kita.

Ingin bahagia dalam hidup? Jadikanlah Allah sebagai tujuan dan cita-cita hidup kita. Ingin keluarga harmonis, sakinah mawaddah wa rahmah? Jadikanlah aturan Allah dan Rasul-Nya sebagai pedoman hidup berkeluarga. Wallaahu a'lam.




Tabloid Jumat, Republika

 

__._,_.___

Readmore »»

Wednesday, July 30, 2008

Bagaimana Spekulan Mata Uang Beraksi Sepuluh Tahun

http://www.usahadinar.com/index.php/Bagaimana-Spekulan-Mata-Uang-Beraksi-Sepuluh-Tahun-Lalu.html

Bagaimana Spekulan Mata Uang Beraksi Sepuluh Tahun Lalu


Ilmu pengetahuan dan informasi adalah ibarat senjata api, apabila ditangan polisi yang baik senjata tersebut dapat untuk melindungi harta benda bahkan jiwa kita, namun apabila ditangan penjahat bisa dipakai oleh perampok untuk merampok harta kita atau bahkan membunuh kita.

Informasi mengenai ekonomi dan kekuatan mata uang suatu negara juga demikian. Ada orang-orang yang memang profesinya menekuni kekuatan ekonomi dan mata uang suatu negara, kemudian pada saat yang tepat menyerangnya untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya.

Berikut adalah salah satu contoh bagaimana spekulan mata uang menyerang Rupiah tahun 1997-1998 dan betapa besar keuntungan yang mereka ambil.

Seperti diuraikan di artikel-artikel lain di blog ini, bahwa para spekulan mata uang belum tentu menjadi penyebab utama terjadinya krisis mata uang di Indonesia, Malaysia dan beberapa negara lain di kawasan ini sepuluh tahun lalu. Tetapi sangat besar kemungkinananya mereka mengambil manfaat dari tanda-tanda krisis kemudian memperparahnya dengan mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya.

Awalnya mereka melihat peluang, bahwa fundamental ekonomi kita memang lemah, mata uang kita masih berada pada tingkat US$ 1= Rp 2,400 awal 1997 dan S$ 1 = Rp 1,320. Posisi ini kurang lebih dapat digambarkan di illutrasi berikut :

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-r5WMAlNIYYqsjlwQl9tU3mT5l2AhswqGHevSpdrO-gxWpr0tNu6JeLcxRgSxQTPZpRCxzBQkX4-9YiPWOn6nmPL6AXJw3gdfEzfbz_AwRcHhy9nJXmmyjy1PBZPda4mcEViQ/s320/Gambar+AppendixI_1Baru.png


Posisi nilai tukar Rupiah sebelum krisis 1997/1998

Mereka melihat bahwa Rupiah yang lemah dan pendukung fundamental ekonominya juga lemah, akan mudah sekali jatuh. Oleh karenanya mereka menjual dengan transaksi short (barangnya sendiri mereka belum punya atau mereka meminjamnya dari pihak lain, dan ini terlarang dalam Islam ) sejumlah besar Rupiah (untuk spekulasi harus besar karena kalau tidak – dampaknya tidak akan berarti) misalnya Rp 2.4 trilyun ( pada tingkat nilai tukar US$ 1=Rp 2,400) setara US$ 1 Milyar. Dari transaksi ini spekulan tersebut mendapatkan US$ 1 Milyar yang akan mereka bayar kembali dengan Rp 2.4 trilyun pada saat transaksi ditutup kemudian hari. Anggap spekulasi mereka benar terbukti (memang terbukti akhirnya !) dan Rupiah benar-benar jatuh, misalnya pada saat Rupiah turun menjadi US$ 1 = RP 10,000,- spekulan tersebut menutup transaksinya. Sekarang untuk membeli Rp 2.4 Trilyun (pada saat US$ 1 = RP 10,000,- ) ia hanya perlu US$ 240 juta. Dari sini spekulan tersebut mendapatkan keuntungan sebesar US$ 760 juta ! yaitu US$ 1 Milyar minus US$ 240 juta. Keuntungan ini disebut sebagai keuntungan spekulatif, namun keuntungan spekulan bukan hanya sampai disini. Ada keuntungan lain yang terbawa dan tinggal dipunguti oleh si spekulan, yang disebut keuntungan Arbitrage . Keuntungan arbitrage ini dapat digambarkan sebagai berikut :



Setelah Rupiah anjlok, maka terjadi ketidak seimbangan atau dis-equilibrium mata uang dari yang kita contohkan diatas yaitu US$, Rupiah dan S$. Berbeda dari keuntungan spekulatif yang masih berisiko dan perlu menunggu waktu untuk menikmati hasilnya, keuntungan arbitrage bisa langsung saat transaksi itu juga, ibarat tinggal memunguti uang yang ada di jalan. Mekanisme keuntungan arbitrage ini kurang lebih sebagai berikut :

1. Pinjam uang US$ 1 Milyar dan tukar dengan Rupiah menjadi Rp 10 trilyun (pada nilai tukar yang baru US$ 1 = RP 10,000,- ).
2. Tukar Rp 10 trilyun ke Dollar Singapura (S$ 1 = RP 5,000,-) atau menjadi S$ 2 Milyar.
3. Tukar S$ 2 Milyar ke US$ (S$ 1 = US$ 0.60) menjadi US$ 1.2 Milyar
4. Kembalikan hutang yang US$ 1 Milyar di point 1 dan nikmati keuntungan arbitrage US$ 200 juta.

Dari aksinya tersebut si spekulan mendapatkan total keuntungan US$ 960 juta yaitu US$ 760 juta dari keuntungan spekulatif dan US$ 200 juta dari keuntungan arbitrage. Keuntungan arbitrage ini masih terus dan terus diambil di pasar uang sampai benar-benar terjadi kestabilan baru.

Dengan risiko yang begitu nyata terhadap uang kertas kita, maka sudah seharusnya kita memikirkan untuk membebaskan mata uang kita dari ulah para spekulan yang dengan mudahnya menghancurkan mata uang kita. Hal ini hanya bisa dilakukan apabila mata uang kita emas dan perak atau Dinar dan Dirham – karena nilai keduanya tidak bisa dihancurkan oleh spekulan.

Penghancuran nilai mata uang kita pernah terjadi dengan tingkat yang amat serius sepuluh tahun lalu, apakah ada jaminan bahwa hal sejenis tidak akan terulang lagi ? Kalau Anda tidak yakin akan jawaban pertanyaan ini, maka sudah saatnya Anda berpikir untuk beralih ke Dinar atau aset lain yang memiliki nilai riil, bukan aset dalam uang kertas manapun.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4w0fz_B0B5F5oelHCxiNFccY2FcMvCbo54OsulDYMPnPFN1iLEuPY64C90unOgwhvYHgfElkwf7pQQ3b_0WC8UoW1FbGIRMjzgGRFG0zchqlUpkp3ASpv9yrCcZlf-mpq5BDu/s320/Gambar+AppendixI_2Baru.jpg
Posisi nilai tukar Rupiah setelah krisis 1997/1998

Readmore »»

Monday, July 28, 2008

Bioskop di Jakarta Pun Dulu Pisahkan Pria dan Wanita

Di zaman sekarang, bukan hal yang mengejutkan lagi jika ada yang mengatakan jika bioskop merupakan salah satu wahana yang sering disalahgunakan sebagai tempat melakukan kemaksiatan. Namun tahukah Anda jika di zaman dahulu, di Jakarta, bioskop sesungguhnya sudah mengantisipasi hal ini, agar tidak disalahgunakan, dengan memisahkan tempat duduk antara yang pria dengan wanita.

Dalam buku kecilnya berjudul “Nostalgia di Jakarta: Cuplikan Kisah-Kisah ‘Edan’ Seputar Jakarta di Masa Lalu” (Javamedia: Juni 2008) yang ditulis oleh Zaenuddin HM, seorang jurnalis senior kelahiran Betawi yang kini aktif di salah satu harian nasional, ditulis salah satu fakta yang sangat menarik tentang bioskop di Djakarta Tempo Doeloe.

Pada halaman 31 dengan judul tulisan “Pulang Nonton Bioskop, Suami-Isteri Berpisah” ditulis bahwa dahulu kala di Jakarta belum banyak berdiri bioskop seperti sekarang ini. Zaenuddin HM menulis, “Sejak tahun 1900-an dunia film Indonesia sudah ada dan mulai tumbuh. Di Jakarta khususnya, film diputar melalui bioskop keliling. Waktu itu memang belum ada gedung bioskop permanen. Lagi pula film-film yang diputar kala itu masih jenis film gagu alias tidak ada suara dan dialog di dalam ceritanya…”


selanjutnya...

Suatu waktu, di dekat Lapangan Ikada (kini kawasan Monas), didirikanlah sebuah bioskop yang sangat sederhana. Lalu kemudian berdiri pula beberapa bioskop dengan kondisi yang lebih baik.

“Yang unik dari bioskop-bioskop di Jakarta tempo dulu itu adalah tempat duduknya. Kenapa? Sebab tempat duduknya dipisah, untuk penonton pria ataupun wanita. Pemisahannya berupa lorong yang membelah sepanjang tengah-tengah bangsal dari depan dan belakang. Mengapa sampai dipisah, mungkin karena pertimbangan moral saat itu, ” lanjut Zaenuddin HM.

Uniknya lagi, dan ini bisa bikin kita tertawa, seringkali ketika bioskop bubar, banyak pasangan suami-isteri saling mencari dan terpaksa teriak-teriak, bahkan tak jarang ada yang pulang sendiri-sendiri lantaran tidak bersua juga. “Akibatnya bisa fatal, setelah pulang dari bioskop, di rumah bukannya tambah mesra justru bertengkar dan saling menyalahkan. Wah, bisa gawat. Itulah nostalgianya, ” tulis Zaenuddin HM sebagai penutup tulisan tersebut. Lucu? Memang.

Namun sebenarnya dari tulisan itu kita bisa memetik hikmah bahwa sebenarnya jika pemerintah memiliki niat baik, tidak ada salahnya meneladani sistem gedung bioskop di zaman baheula ini. Di bidang transportasi pernah diuji coba pemisahan antara penumpang pria dan wanita di gerbong kereta api listrik yang berbeda, walau tidak maksimal, karena memang tidak dipersiapkan secara matang oleh pemerintah. Jika dipersiapkan secara matang akan lain soalnya.

Kerusakan moral masyarakat kita ini sudah kelewat batas. Sebab itu, pemerintah hendaknya mau lebih giat bersikap pro-aktif dalam memberantas penyakit masyarakat ini dengan langkah-langkah yang nyata. Tentunya dengan juga didukung oleh kesadaran masyarakat di mana kesadaran itu hendaknya berangkat dari upaya pencerahan, bukan pemaksaan atau malah kekerasan. Mungkin ada di antara partai politik yang akan bertarung di Pemilu 2009 yang memiliki agenda seperti di atas jika menang nanti? Wallahu’alam.(rz)




Readmore »»

Sang cahaya

From: PENGAJIAN-KANTOR@yahoogroups.com On Behalf Of ali anis

Sang cahaya

Oleh : Ustadz Husin Nabil bin Najib Assegaf

Allah berfirman,

"Sesunggunya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai
orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan sampaikan salam
kepadanya."

Pada malam itu ketika hendak menjahit, jarum yang akan digunakannya
terjatuh. Aisyah radhiallahhu `anha meraba-raba mencari jarum itu.
Tidak lama kemudian tirai kamarnya terbuka dan memancarlah cahaya ke
dalam kamarnya, dan seketika itu jarum yang dicarinya terlihat.

"Wahai Rasulullah, betapa terangnya cahaya di wajahmu itu, ya Rasulullah."

Dijawab oleh beliau SAW,

"Wahai Aisyah, celakalah orang-orang yang tak dapat melihat wajahku."

Berkata Abbas radhiallahu` anhu,

"Ketika kau lahir terbitlah cahaya di bumi
Teranglah setiap penjurunya dengan sinarmu
Dan kami di dalam cahaya itu,
di dalam sinar itu,
di dalam petunjuk itu,
berjalan melewati kehidupan kami"



Berkata Al-Allamah Ali bin Muhammad Al-Habsyi,

"Dialah cahaya yang sinarnya sebagai petunjuk bagi kebingungan.
Dialah kelak hari dibangkitkan kepemimipinannya adalah tempat berteduh
para rasul"

Tak kepala
Tak mata
Tak hati
Tak nadi
Kucuran keringat di badan
Tetesan mata di jalanan
Gemuruh nafas terengah-engah
Bisingnya derap setiap langkah
Banyaknya bayi terlahirkan
Adakah yang terlupakan?
Apa yang dilewatkan?
Kelahiran seorang Nabi
Sebelum fajar dini hari
Dengan apa 'ku peringati?
Bahkan apakah 'ku nanti?

(Source: http://bisyarah. wordpress. com/2008/ 03/16/sang- cahaya)


.


__,_._,___

Readmore »»

Bergembira menyambut kelahiran Rasulullah SAW

From: PENGAJIAN-KANTOR@yahoogroups.com On Behalf Of ali anis

Bergembira menyambut kelahiran Rasulullah SAW

Oleh : Ustadz Jindan bin Naufal Bin Jindan

Pujian terhadap Nabi Muhammad merupakan satu hal yang dilakukan oleh
sahabat, bahkan di hadapan Rasulullah. Di banyak hadist disebutkan
bahwa banyak orang dan penyair yang datang kepada Rasul dan
mengucapkan syair yang berisikan pujian terhadap Rasulullah, maka
Rasul pun menyambut mereka dan menghormati mereka, serta menyambut
baik atas pujian mereka. Sebab beliau tahu bahwa mereka melakukan hal
tersebut untuk mendapatkan ridho beliau, yang mana mencari ridho Rasul
merupakan jalan untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta'ala. Dan mereka,
para sahabat Rasulullah, bagaimana tidak memuji Rasulullah, sedangkan
Allah sendiri memuji Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam.

Kegembiraan terhadap kelahiran Rasul merupakan hal yang baik di dalam
syariat. Bahkan mengenang kisah kelahiran Nabi atau Rasul merupakan
sesuatu yang dicontohkan oleh Allah dalam Al-Quran. Sehingga di dalam
Al-Quran, Allah menceritakan tentang kelahiran Nabi Isa alaihi salam,
juga tentang kelahiran Nabi Musa alaihi salam. Yang mana Allah
menceritakan itu semua secara mendetail. Apabila Allah menceritakan
kisah kelahiran mereka para Nabi, maka mengapa kita tidak boleh
mengenang kisah kelahiran pemimpin sekalian Nabi dan Rasul?

Rasulullah menceritakan bahwa Allah Ta'ala meringankan adzab terhadap
Abu Lahab di neraka pada setiap hari Senin, dikarenakan kegembiraannya
atas kelahiran Nabi Muhammad sehingga ia membebaskan budaknya yang
bernama Ummu Aiman yang membawa kabar gembira tersebut kepadanya.
Hadist ini disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhori. Padahal Abu Lahab
adalah seorang yang kafir yang disebutkan akan kebinasaannya di dalam
Al-Quran, sehingga turun surat khusus untuk menceritakan tentang
kebinasaannya. Akan tetapi Allah tidak melupakan kegembiraannya dengan
kelahiran Nabi Muhammad hingga meringankan adzab baginya setiap hari
Senin, hari kelahiran Rasulullah.



Maka bagaimana halnya dengan seorang hamba yang mukmin, yang seumur
hidupnya bergembira dengan kelahiran Rasulullah dan meninggal dalam
keadaan Islam? Pastilah derajat yang besar bagi mereka. Sebagaimana
Allah berfirman,

"Katakanlah (hai Muhammad) bahwa dengan karunia dan rahmat Allah, maka
bergembiralah dengan hal itu, itu (kegembiraan kalian) lebih baik dari
apa yang mereka kumpulkan."

Kegembiraan dengan rahmat dan karunia Allah dituntut oleh Al-Quran,
dan kegembiraan tersebut lebih mahal dan lebih berharga dari apa yang
dikejar-kejar dan dikumpulkan manusia, baik itu harta ataupun
kedudukan.

Karena itu, di bulan kelahiran Rasul yang mulia ini, hendaknya kita
memperkuat hubungan kita dengan Rasulullah, dengan menghidupkan sunnah
beliau, mengenal riwayat hidup beliau, menanamkan kecintaan terhadap
beliau, dalam lubuk hati kita serta keluarga kita, menjadikan
Rasulullah sebagai idola yang tertinggi dan paling dekat dengan umat
islam, serta memperbanyak shalawat kepada beliau.

(Source : http://bisyarah. wordpress. com/2008/ 03/17/bergembira -menyambut- kelahiran- rasulullah- saw)

Readmore »»

8 Pengertian Cinta Menurut Qur'an

From: PENGAJIAN-KANTOR@yahoogroups.com On Behalf Of agussyafii
8 Pengertian Cinta Menurut Qur'an

Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu
mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai'an
katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya
(man ahabba syai'an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta
sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai
dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang
dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti
kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi
orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka
berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka
bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti
perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur'an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:




1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan
"nggemesi". Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu
berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia
ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut,
siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis
rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding
terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang
kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi
kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.
Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian
darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari
itu maka dalam al Qur'an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham ,
yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri,
yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata
rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana
psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya
menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta
mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia
akhirat.

3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara,
sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung
kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur'an disebut
dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada
yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang
lama.

4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil
dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad
syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir
tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur'an menggunakan term syaghaf
ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir
kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta ra'fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak
tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur'an
menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah
menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus
hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku
penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur'an menyebut term ni ketika
mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan
Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja),
sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan
bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al
jahilin (Q/12:33)

7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur'an tetapi dari
hadis yang menafsirkan al Qur'an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5
dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan
tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma'tsur
dari hadis riwayat Ahmad; wa as'aluka ladzzata an nadzori ila wajhika
wa as syauqa ila liqa'ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya
memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa
Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada
sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang
apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il
tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik
kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang
menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada
pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur'an ketika menyatakan bahwa
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la
yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

Salam Cinta,
agussyafii

==============================================
Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui
achmad.mubarok@yahoo.com atau http://mubarok-institute.blogspot.com
==============================================


Readmore »»

Doa untuk Ibu Bapak / Orang Tua


From
PENGAJIAN-KANTOR@yahoogroups.com

Assalamu’alaikum wr wb,
Doa dalam bahasa Arab bisa dilihat di:
http://syiarislam.wordpress.com

Sesungguhnya jasa orang tua kita tidak terhitung
banyaknya. Ibu kita mengandung selama 9 bulan kemudian
melahirkan kita dengan resiko nyawa melayang. Ketika
kita masih bayi tak berdaya, mereka beri kita minum
dan makanan. Ketika kita buang air, tanpa jijik mereka
membersihkan kita dengan penuh cinta. Kita diberi
pakaian dan juga pendidikan.

Mereka sabar menghadapi kemarahan kita, rengekan,
kenakalan, bahkan mungkin ketika kita masih
kecil/balita pernah memukul mereka. Mereka tetap
mencintai kita. Jadi jika kita merasa kesal dengan
mereka, apalagi jika mereka begitu tua sehingga
kelakuannya kembali seperti anak-anak, ingatlah
kesabaran mereka dulu ketika menghadapi kita. Bagi
yang sudah memiliki anak tentu paham tentang kerewelan
anak-anak yang butuh kesabaran yang sangat dari orang
tua.

Adakah kita mampu membalasnya? Bahkan seandainya orang
tua kita tak berdaya sehingga untuk buang air kita
yang membersihkannya, itu tidak akan sama. Orang tua
membersihkan kita dengan penuh cinta dan harapan agar
kita selamat dan panjang umur. Sementara si anak
ketika melakukan hal yang sama mungkin akan merengut
dan bertanya kapan “ujian” itu akan berakhir.



Begitulah. Seperti kata pepatah, “Kasih anak
sepanjang badan, kasih ibu sepanjang jalan” Tidak
bisa dibandingkan.

Oleh karena itu hendaknya kita berbakti pada orang tua
kita. Minimal kita mendoakan mereka:

Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga
yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu
yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak yang
mendoakannya. (HR. Muslim)

Jika kita tidak berdoa untuk orang tua kita, maka
putuslah rezeki kita:

Apabila seorang meninggalkan do'a bagi kedua orang
tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)

Oleh karena itu sebagai anak yang berbakti hendaknya
kita senantiasa berdoa untuk ibu bapak kita. Di antara
doa-doa untuk orang tua yang tercantum dalam Al
Qur’an adalah sebagai berikut:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua
dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:

Robbirhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana
mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." [Al
Israa’:24]

Robbanaghfir lii wa lii waalidayya wa lilmu’miniina
yawma yaquumul hisaab

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu
bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari
terjadinya hisab (hari kiamat)." [Ibrahim:14]

Robbighfir lii wa li waalidayya wa li man dakhola
baytiya mu’minan wa lilmu’miniina wal
mu’minaati wa laa tazidizh zhoolimiina illa tabaaro

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang
masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang
beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau
tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain
kebinasaan." [Nuh:28]

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa
robbayaanii shoghiiroo

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan
kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua
telah mendidik aku waktu kecil."

Mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaat dari ilmu
yang kita dapat dengan mengamalkannya setiap hari.
Amiin.

===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau http://syiarislam.wordpress.com

Readmore »»